Follow by Email

Friday, July 22, 2016

Cara Menggunakan Antibiotik Untuk Ikan


Antibiotik (anti= lawan, bios=hidup) adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan bakteri pathogen, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relative kecil. Pada umumnya antibiotik dibuat secara mikrobiologi,yaitu fungi dibiakkan dalam tangka-tangki besar bersamaan dengan zat gizi khusus dan pada kondisi tertentu. Setelah diisolasi dari caian kultur, antbiotika ini dimurnikan dan aktivitasnya ditentukan ( Tjay dan Rahardja, 2015).
Antibiotik pada ikan, bolehkah ?
Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan NO 52/KEPMEN-KP/2014 Tentang Klasifikasi Obat Ikan, Ada 3 golongan antibiotik yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit ikan, yaitu ;
No
Golongan
Nama Zat Aktif
1
Tetrasiklin
Klortetrasiklin
Oksitetrasiklin
Tetrasiklin
2
Makrolida
Eritromisin
3
Kuinolon
Enrofloksasin

Dalam Keputusan Menteri tersebut, antibiotik digolongkan dalam obat keras dalam daftar obat ikan. Yang dimaksud obat ikan keras ialah obat ikan yang apabila penggunaannya tidak sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan bahaya bagi ikan, lingkungan, dan/atau manusia yang mengkonsumsi ikan tersebut sehingga perlu ada pemantauan dari para ahli kesehatan untuk mencegah efek negatif tersebut.
Yang wajib dipatuhi dalam penggunaan antibiotik untuk ikan,
  • Antibiotik hanya untuk pengobatan, tidak dipakai untuk pencegahan.
  • Pastikan bakteri penyebab penyakit ikan bersifat peka terhadap antibiotik, yaitu pengobatan berdasar diagnosa dokter hewan. Jika kesulitan, penyakit yang disebabkan bakteri lebih baik menggunakan antibiotik spektrum luas yang paling umum digunakan seperti Oxytetracycline daripada mengalami gagal panen.
  • Antibiotik harus digunakan pada dosis dan durasi yang tepat untuk memastikan hilangnya bakteri. Pemberian antibiotik melalui pakan harus diberikan selama 6-8 hari (meskipun ikan sudah nampak sembuh, durasi pengobatan harus diselesaikan ) dan bisa diulangi setelah satu minggu istirahat guna mencegah perkembangan patogen baru.
  • Hal yang paling penting adalah bahwa residu antibiotik dalam daging bisa mempengaruhi manusia yang mengkonsumsi. Ikan tidak boleh dijual untuk konsumsi manusia sampai melewati batas 1 bulan dihitung dari selesainya pengobatan terakhir. Poin terakhir ini sangat penting untuk semua jenis ikan konsumsi seperti lele, bandeng, gurami, gabus, mas, belut, nila, mujair, dsb.

Cara Pemberian Antibiotik Untuk Ikan
  • Injeksi
Umumnya digunakan untuk induk ikan, teknik ini diterapkan apabila tidak terdapat cara lain atau cara lain tidak efektif, biasanya karena ikan tidak mau makan. Injeksi obat memastikan bahwa obat masuk kedalam tubuh ikan. Kelemahannya adalah dapat meningkatkan stress pada ikan.
  • Dicampur dengan pakan
Selama pengobatan, presentase pemberian pakan harian harus dikurangi sampai 1% per hari untuk memastikan semua pakan yang diberikan habis dimakan oleh ikan. Berikut cara perhitungan dan pencampurannya ;
Menghitung jumlah pakan harian yang ditimbang : 1/100 x total biomasa ikan (kg),
Menghitung jumlah obat harian yang ditimbang : total biomassa ikan (kg) x dosis obat (mg/kg bb ikan/hari)
Tambahkan 100 ml minyak sayur/ 5 kg pakan pada pakan yang telah ditimbang
Campurkan obat yang telah ditimbang pada pakan yang telah dibasahi dengan minyak sayur, aduk sampai rata/ homogen. Tujuannya adalah agar obat tidak terlarut kedalam air namun terdispersi bersama pakan sehingga dosisnya tidak berkurang.
Sebarkan racikan diatas secaara perlahan pada kolam ikan untuk memastikaan pakan dicerna habis.
Silahkan konsultasikan kepada dokter hewan untuk mengetahui dosis yang dibutuhkan.
  • Perendaman
Sama seperti metode pakan, selama pengobatan, presentase pemberian pakan harian harus dikurangi sampai 1% per hari untuk memastikan semua pakan yang diberikan habis dimakan oleh ikan. Pada penggunaan oksitetrasilkin sebaagai obat, berikut adaalah prosedur perendaman untuk waktu lama pada sistem air resirkulasi (bisa menyimpan antibiotik ataupun menghemat air). Prosedur dan dosis berikut bisa diterapkan tanpa mengganti air selama 7 hari:
20 mg/L untuk pengobatan pertama kali dengan perendaman
48 jam setelah itu, berikan dosis 15 mg/L
48 jam setelah dosis kedua, berikan dosis 10 mg/L
48 atau 72 jam setelah dosis ketiga, air harus diganti semua.

Perhitungan dosis berdasarkan pada kadar minimal obat memberikan efek, stabilitas obat/ waktu degradasi, serta pola penggantian air. Silahkan konsultasikan kepada dokter hewan untuk jenis antibiotik yang lain.

Rekomendasi
  • Pengobatan atas diagnosa dokter hewan lebih disarankan.
  • Dapatkan obat dari sumber resminya yaitu apoteker dengan membawa resep dari dokter hewan.
  • Metode pemberiaan antibiotik melalui pakan lebih direkomendasikan dibanding kedua metode lainnya karena lebih mudah perhitungan dosisnya, tidak memerlukan tenaga khusus, serta lebih minimal menimbulkan stress pada ikan.
  • Gunakan spuit steril jika obat diberikan melalui injeksi.
  • Khusus untuk obat golongan tetrasiklin yang memiliki sifat tidak stabil terhadap cahaya (Depkes, 1995), hindarkan kontak obat dengan cahaya karena akan terdegradasi dan kehilangan khasiat (diberikan pada malam hari atau kolam ditutup selama pemberian obat).

Daftar Pustaka 
  • Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan. Jakarta
  • Menteri Kesehatan. 2012. Peraturan Menteri Kesehatan Republik IndonesiaNo 007 tahun 2012 Tentang Registrasi Obat Tradisional. Kemenkes. Jakarta
  • Tjay, Tan Hoan dan Kirana, Rahardja. 2015. Obat-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya. Gramedia. Jakarta
  • Menteri Kelautan dan Perikanan. 2014. Tentang Klasifikasi Obat Ikan. Kementrian Kelautan dan Perikanan. Jakarta
By Muhammad Huda S.Farm
Last edited : 3/18/2017

Dalam sebuah Hadist, Rasulullah S.A.W bersabda, 
" Barangsiapa yang berusaha melakukan tugas medis, sementara ia belum mempelajari ilmu pengobatan, maka ia bertanggung jawab terhadap hasilnya" (HR. Abu  Dawud dan An-Nasaa'i)

No comments:

Post a Comment

Author

authorMuhammad Huda S.Farm.,Apt Licensed Pharmacist, Drug Reviewer, Google Adsense Publisher, and SEO Marketer
Learn More ?



LIKE AND SHARE